Bai Fang Li, Sosok Yang Dikenang Lewat Monumen Atas Jasanya

Saturday, July 5th, 2014 - Renungan

Bai Fang Li, Sosok Yang Dikenang Lewat Monumen Atas Jasanya

Venleo.com – Sudah berapa harta yang pernah Anda sumbangkan? Mungkin Anda pernah melakukannya, tapi pasti tidak dapat Anda imbangi dengan sosok satu ini. Ia adalah Bai Fang Li, ia bukanlah seorang pensiunan biasa. Ia adalah sosok yang tak pernah berhenti memikirkan orang lain dan ingin selalu berguna bagi orang lain. Di usia 74 tahun, saat banyak orang tua memutuskan pensiun, ia malah memilih untuk menarik becak.

Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak dan mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China. Ia hampir tak pernah beli makanan, dan makanan yang ia peroleh dengan cara memulung. Begitu pula pakaiannya.

Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian? Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300 anak yang tak mampu.

Mengapa Bai Fang Li mempunyai niat untuk menyumbang uang hasil jerih payahnya? Ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar.

Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari ibu-ibu yang mengunakan jasanya. Namun yang membuat Bai Fang Li heran, sang anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya.

Padahal ia bisa membeli makanan yang layak untuk mengisi perutnya. Ketika ia tanya, ternyata sang anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya untuk membeli makan. Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh. Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara sang anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-harinya, melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Bai Fang Li memulai menyumbang yayasan itu pada tahun 1986. Ia tak pernah menuntut apa-apa dari yayasan tersebut. Ia tak tahu pula siapa saja anak yang mendapatkan manfaat dari uang sumbangannya.

Suatu hari di musim dingin pada tahun 2001, Bai Fang Li menyerahkan sebuah kotak makan berisi uang sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000 pada seorang guru. Ia mengatakan pada guru itu, “Aku makin tua. Sepertinya aku tidak akan bisa menyumbang lagi. Ini ada uang terakhir yang kumiliki.”

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru.

Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak dan jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi.

Dalam lingkungan sosial, selalu ada satu orang yang luar biasa hidupnya yang bisa mengingatkan kita bahwa kita harus peduli satu sama lain. Semoga terinspirasi dan bisa melakukan kebaikan seperti yang mereka lakukan.

Bai Fang Li, Sosok Yang Dikenang Lewat Monumen Atas Jasanya | Baca Juga | 4.5
DMCA.com Protection Status blogging tips Top world_business blogs Literature Blogs